
WARSAWA, KOMPAS.com - Jerman terhenti. Der Panzer, yang mengemas sembilan poin di Grup B, hasil tiga kemenangan, yakni atas Portugal, Denmark, dan Belanda, plus menang meyakinkan 4-2 atas Yunani pada perempat final, tumbang 1-2 dari Italia. Tim asuhan Joachim Loew gagal meredam Andrea Pirlo dan Mario Balotelli.
Salah satu keputusan Loew yang harus dibayar mahal dengan kekalahan pada semifinal di Stadion Nasional Warsawa, Polandia, Jumat (29/6/2012) dini hari WIB, itu adalah diturunkannya gelandang Toni Kroos. Pemain yang jarang menjadi starter ini kala Jerman memukul Yunani ia juga cadangan dimainkan untuk meredam pergerakan pengatur permainan Italia, Andrea Pirlo.
Namun, nyata-nyata upaya Loew itu gagal. Mantan Pelatih Jerman Juergen Klinsmann berpendapat, memasang Kroos untuk mengawal Pirlo tak berbuah hasil maksimal.
Mario Gomez terlihat statis dan keseluruhan, Jerman gagal mengimbangi Italia. Mereka (Jerman) kalah dalam pertarungan di lini tengah, dan mereka gagal meredam Pirlo, Riccardo Montolivo, dan Daniele de Rossi, kata Klinsmann, dikutip BBC.
Yang membuat kubu Jerman sangat terpukul, lanjut pelatih tim Jerman di Piala Dunia 2006 itu, terkait kenyataan bahwa Pirlo bisa tampil leluasa, seperti saat Italia menghadapi Inggris. Di mata Klinsmann yang kini melatih tim nasional Amerika Serikat itu, tak terlihat upaya lini tengah Jerman melumpuhkan Pirlo.
Opini Klinsmann setidaknya terwakili dengan data fakta-fakta penting kemenangan Italia di situs BBC, khususnya terkait umpan pemain-pemain Jerman. Andalan lini tengah Jerman, Mesut Oezil, misalnya, punya rekor fantastis dengan umpan komplet (tepat ke sasaran) sebanyak 91 persen saat melawan Yunani. Namun, di semifinal, persentase itu turun hingga 79 persen.
Faktor lain yang juga penting, selain Pirlo, adalah kematangan Balotelli, penyerang Italia yang memborong dua gol Gli Azzurri. Ketajaman Balotelli terbukti dengan dua gol dicetaknya dari dua peluang di depan mata. Pelatih Italia Cesare Prandelli melontarkan pernyataan singkat, tetapi mengena. Karier Balotelli baru saja dimulai.
Sementara Balotelli mengungkapkan, laga malam itu adalah yang terindah dalam hidupnya. Namun, saya berharap hari Minggu (final melawan Spanyol) jauh lebih baik, kata striker Manchester City itu.
Loew menuturkan, langkahnya memasang Kroos tak lain untuk memperkuat lini tengah. Sementara gol-gol ke gawang tim asuhannya, menurut Loew, adalah akibat kesalahan tim Jerman karena terlalu sedikitnya pemain yang berada di area pertahanan sendiri.
Namun, striker Jerman, Miroslav Klose, punya pendapat yang sepertinya lebih mewakili jawaban atas pertanyaan soal mengapa Der Panzer kalah.
Rintangan Italia (terasa) terlalu tinggi. Mungkin fakta bahwa kami tak pernah mengalahkan mereka ada di belakang kepala kami, kata penyerang klub Italia, Lazio, itu.
Data head to head menunjukkan, Jerman lebih banyak kalah dari Italia pada turnamen-turnamen utama. Kekalahan lanjutan di Warsawa bisa jadi hanya karena faktor kepercayaan diri, bukan urusan permainan atau olah bola.
Via: Ini Bukan Terkait Olah Bola
0 comments:
Post a Comment